Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2011

Kisah Sukses Pengusaha Bob Sadino





Bob Sadino (Lampung, 9 Maret 1933), atau akrab dipanggil om Bob, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan.

Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.
Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.
Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Sumber: http://www.pengusahasukses.com/kisah-sukses-pengusaha-bob-sadino.htm

Minggu, 28 Agustus 2011

Inspirasi Dari Coffee Starbuck

Bagaimana Starbucks mengubah secangkir kopi menjadi sebuah bisnis yang mendunia ? dengan akses unik untuk mendekati sumber daya dan personel Starbucks, Joseph Michell berhasil mngumpulkan 5 prinsip kunci kepemimpinan yang dapat mengubah sebuah gagasan biasa menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa.
Anda telah mengetahui kisah tentang Starbucks sejak tahun 1992, nilai sahamnya telah meningkat secara luar biasa sebesar 5000 persen! Kesuksesan Starbucks yang genius disebabkan oleh kelihaiannnya dalam menciptakan pengalaman pelanggan yang personal, mendorong pertumbuhan bisnis, menghasilkan profit, membuat keryawannya brsemangat, dan menjamin kesetiaan planggan-semua itu pada saat yang bersamaan.
Buku ini berisikan tentang 5 prinsip Starbucks untuk menjadikan kedai kopinya fenomenal dalam bisnis ritel. 5 Prinsip tersebut adalah:
1. Lakukan Dengan Cara Anda.
Sekarang ini, para pemimpin bisnis menginginkan karyawan mereka terlibat penuh dalam tugas-tugas yang mereka kerjakan, tidak hanya mengerjakannya dengan baik dan benar. Dengan menerapkan prinsip ini, Starbucks berhasil menciptakan sebuah model unik yang mendorong mitra untuk menuangkan energi kreatif dan dedikasi mereka pada semua yang mereka lakukan. Para pemimpin Starbuck telah menyediakan sebuah struktur yang memungkinkan mitra untuk membenamkan diri mereka sendiri ke dalam ekerjaan, sehingga mereka bisa mengilhami pelanggan dengan cara-cara legendaries. Para pemimpin menyebutnya “Lima Kiat Sukses”, yakni Ramah, Tulus, Perhatian, Berwawasan, dan Peduli.
Dengan bersikap ramah, Starbucks menciptakan sebuah ikatan yang mengundang pelnaggan untuk berkunjung dan berkunjung lagi. Besikap tulus berarti berhubungan, menemukan, dan merespon. Mendengarkan hanyalah salah satu bagian dari penciptaan hubungan dengan elanggan. Bisnis juga harus menemukan kebutuhab dan kondisi unik dari setiao pelanggan serta kemudian mencari cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bersikap penuh perhatian bukan sekadar bersikap sopan tetapi lebih pada menyadari kebnutuhan orang lain sembari menciptakan situasi yang saling menguntungkan. Hal ini juga memberi nda wewenang untuk bertindak dengan cara-cara yang memperhatikan kebutuhan orang lain. Berwawasan, menyukai apa yang Anda lakukan, dan berbagi wawasan dengan orang lain. Dalam ekonomi wawasan dan layanan, kita berikan nilai tambah pada sebuah bisnis dengan memperkat pengalaman pelanggan. Peduli-di kedai atau kantor Anda, di perusahaan Anda dan di komunitas Anda.
2. Semuanya Penting.
Sebagian kesuksesan Starbucks terkait dengan kemampuan luar biasa mitra dalam memperhatikan detail-detail terkecil yang sangat penting bagi konsumen. Manajemen Starbucks paham bahwa keunggulan kompetitif lahir bila semua pihak dalam perusahaan berpandangan bahwa tidak ada hal yang sepele dan bahwa pelanggan memerhatikan segala hal. Selain itu, Manajemen Starbucks terus meningkatkan dan menyempurnakan sumber daya pelatihan, tidak hanya pada wawasan produk dan level-level operasional, tetapi juga dalam bidang-bidang yang memberikan kesempatan pada mitra untuk turut memiliki perusahaan.
3. Surprise and Delight. Pemimpin Starbucks membuat komitmen yang kuat untuk menciptakan sebuah pengalaman Surprise and Delight di semua area bisnis. Dan mereka mencari cara untuk memberikan kebahagiaan subjektif bagi pelanggan dan staf yang akan menghasilkan efek besar pada loyalitas, komunitas, dan laba. Manajemen senior Starbucks memahami bahwa salah satu hal terbaik dari kejutan adalah orisinalitasnya. Dengan berbagai pengalaman kejutan-kejutan Starbucks yang dilakukannya ada para pelanggan setia, ternyata dapat meningkatkan laba serta pelanggan yang berkunjung ke Starbucks.
4. Terbuka terhadap Kritik. Menghargai kritik adalah salah satu bagian utama dari prinsipStarbucks. Terbuka terhadap Kritik melibatkan seperangkat keahlian lengkap yang membuat bisnis dan mitra mampu menciptakan peluang bisnis dan hubungan baik saat dihadapkan pada keraguan, gangguan, atau kecurigaan. Dalam bisnis, menyenangkan sekali jika media memuat nama perusahaan Anda saat segalanya berlangsung dengan baik. Namun, semuanya akan berbda jika media membuat tulisan negative tentang perusahaan Anda. Seperti yang dilami Starbucks ketika kolom ynag ditulis David M. Martin, seorang kepala konsultan pelatihan, muncul dalam internet bankstock.com. Fenomena Starbucks dengan pelanggan setia, dapat memiliki kelemahan ktika tingkat pelayanannya kehilangan konsistensi. Dan biasanya bukan hanya satu kejadiam dramatis yang mlmahkan merk tersebut. Di banyak perusahaan besar, publikasi negative seperti itu mungkin akan dianggap sebagai pendapat seorang jurnalis yang sedang marah atau akan didebat oleh pemimpin yang tidak bersedia ikut serta dalam usaha pengenalan diri sendiri yang terbuka dan jujur.. Tetapi hal ini tidak terjadi pada perusahaan Starbucks, ketika ulisan David sedang dibicarakan oleh banyak oran, Gregg Johnson, SVP of Emerging Business di Starbuck justru bersedia untuk meluangkan waktu untuk merspon penulis sebuah kolom di situs perbankan, dia menjelaskan,”Anda merespon karena Anda mampu elihat dari sudut pandang pelanggan, dan tentu saja Anda merespon untuk memulihkan pelanggan. Tetapi alasan utama anda bertindak adalah karena hal itu merupakan kesempatan untuk belajar lebih banyak mengenai apa yang bisa kita lakukan, bagaimana mnjadi ebih baik, bagaimana menangani masalah secara berbeda, bagaimana menolong operator kita menjadi operator yang lebih baik, bagaimana membantu barista kita menjadi barista dan pelayann yang baik, dan bagaimana kita sebagai pmimpin dapat mmbimbing mreka dengan lebih fektifmenuju tujuan utama, yaitu menyediakan pengalaman yang laur biasa itu.” Pada tingkat perusahaan dan perorangan, manajer Starbucks telah menemukan cara untuk melihat pelajaran yang bisa mereka ambil dari orang-orang yang meragukan mereka. Dengan tidak hanya menanggapi maalah, tetapi juga mengundang pengkritik dalam sebuah diskusi pemecahan masalah, para eksekutif Starbucks mengembangkan solusi yang lebih baik untuk masalah bisnis dan social.
5. Leave Your Mark. Keterlibatan sosial adalah bagian integral dalam misi pemimpin Starbucks, karena partisipasi dalam komunitas berguna untuk mengekspor Starbucks Experience kepada masyarakat seluruh dunia.Pemimpin Starbucks memasukkan komitmen social perusahaan dalam pernyataan misinya, yang menyatakan bahwa Starbucks akan “memberikan kontribusi positif pada komunitas itu, manajer-manajer Starbucks juga bekerja dengan ulet untuk memastikan bahwa misi dan nilai yang mereka pegang teguh menjadi landasan di setiao keputusan bisnis yang mereka mabil sehari-hari. Bahkan, pemimpin Starbucks telah membuat sbuah pernyataan misi terpisah yang memasukkan komitmen khusus perusahaan terhadap masalah-masalah lingkungan. Sayangnya, para pemimpin di Perusahaan dengan segala ukuran, mulai dari took-took rumahan sampai konglomerat multinasional, sering kali gagal menyadari apa yang bisa mereka lakukan untuk memberikan kontribusi pada komunitas mereka dan pada masyarakat secara keseluruhan. Pemimpin Starbucks mencerminkan teladan ynag sangat kuat dala meraih kesuksesan bisnis sembari menjadi kekuatan yang dapat memperbaiki hidup individu secara komunitas.
The Starbucks Experience bukanlah buku yang berat, yang dipenuhi dengan teori-teori atau praktik-praktik manajemen yang sulit untuk diterapkan. Ini adalah buku yang benar-benar penuh inspirasi, yang akan membuat para pembacanya tersentuh dengan cerita-cerita mengenai Starbucks Experiences (pengalaman-pengalaman Starbucks) yang dipersembahkan oleh karyawan Starbucks terhadap para pelanggan maupun oleh pimpinan Starbucks terhadap para karyawannya. Buku ini menawarkan prinsip-prinsip yang sangat mudah diterapkan pada bisnis Anda, kecil maupun besar, bahkan untuk menerapkannya tidak perlu modal yang besar, yang diperlukan hanyalah niatan yang kuat untuk melakukannya sekarang juga!!
Ketika mendapat masukan negatif dari pelanggan, ketahuilah bahwa Anda memiliki kesempatan untuk benar-benar memperkuat hubungan itu. Dengan pertama-tama berterima kasih atas usaha pelanggan dan mnghargai kekecewaan mreka…  kemungkinan besar Anda akan mmpu mempertahankan pelanggan tersebut sekaligus memperoleh masukan berharga untuk memperbaiki bisnis Anda.
Ketika pegawai melihat bahwa manajemen benar-benar memerdulikan masukan negative atau positif mereka juga akan perduli. Ketika mereka melihat bahwa manajemen secara pribadi berkomitmen bahwa untuk menghadapi masalah, memperbaiki dan atau memperkokoh hubungan, komitmn mereka juga akan mningkat.
Kelima prinsip tersebut disajikan dalam gaya bahasa yang ringan, sederhana, dengan disertai contoh-contoh nyata yang pernah terjadi dalam dunia Starbucks.
Buku ini patut dan perlu dibaca oleh para pengusaha, pemimpin bisnis, konsultan bisnis, ahli pemasaran, mahasiswa pengambil mata kuliah entrepreneurship, dan tentunya para penggemar Starbucks.